Rabu, 09 Oktober 2013

A LITTLE HEART FOR YOU



Cerita ini adalah fiktif belaka, mohon maaf apabila ada kesamaan nama, tokoh, karakter ataupun peristiwa.
~~~~~~
   Apakah benar sesuatu hal yang tidak tercapai itu terasa sangat menyakitkan? Aku bisa apa? Kadang aku menyalahkan situasi yang seakan ingin menyakitiku. Aku membenci situasi itu, padahal situasi tidak berbuat apa-apa. Dan kalaupun dia menciptakan keadaan yang menyesakkan, sebenarnya kita juga ikut dalam menciptakan keadaan tersebut.
A
~~~~~~
wal yang baru, langkah yang baru, bertemu teman-teman baru, kampus baru, yaaah aku jadi mahasiwa baru sekarang, di salah satu perguruan tinggi ternama di kota tercinta ini. Maklum namanya mahasiswa baru pasti rempong, takut sama kakak seniornya mungkin, atau dan sebagainya. Aku melangkahkan kakiku menuju Fakultas Sastra, masih sepi banget masalahnya ini baru jam setengah 7, padahal acara mulai setengah 8 ya sekali lagi aku tegaskan namanya juga mahasiswa baru pasti takut telat. Bisa menggambarkan gimana saat masuk pertama kan? Ya begitulah.
Aku sudah mulai akrab dengan beberapa orang, dan untunglah kami juga sekelas di kelas B. Riani, Rita, dan Liana itulah teman akrabku disini. Ngomong-ngomong masalah cowok, hmmm sepertinya ada  yang menarik. Tapi nggak mau deh sama yang sekelas, kenapa? Nggak mau aja :p Acara pertama masuk kuliah ya seperti itu, pengenalan akademik, UKM, HMJ, perkenalan, dll dsb dst.
~~~~~~
Selang 2 minggu setelah masuk kuliah, sudah mulai beradaptasi dan menambah banyak teman ya minimal teman sekelas lah.
“heii, bisa pinjam catatan pelajarannya Pak Ismail?” Tanya seorang cowok putih, yang berdiri dibelakangku. Aku kemudian balik badan dan bengong, aku belum kenal.
“ya…?” Jawabku bingung.
“oh wait wait, aku Arthur dari kelas A tapi biasanya kita juga sekelas kalau kelasnya gabungan. Kamu Mayda kan?”
“yap..tul.. Ohh yang namanya Arthur itu kamu to? Hehehe”
“pinjam catatan Pak Ismail ya, soalnya kelas A nanti ada UKD…”
“okeee” jawabku seraya tersenyum sambil mencari bukuku di tas dan kemudian memberikanya buku itu.
“thanks Mayda” jawabnya seraya tersenyum simetris  lalu ia pergi.
“May, buruan masuk dosennya udah datang” Panggil Riani dari ruang sebelah tempat aku berdiri.
“oke wait”
~~~~~~
Berjalanlah waktu, hampir satu bulan saya belajar disini. Sudah mulai bisa berbaur dengan yang lainnya, tidak hanya cewek-cewek tapi cowok-cowok juga. Tapi aku merasa ada sesuatu, sesuatu yang baru, sesuatu yang membuat hatiku deg-degan untuk masuk di kelas gabungan. Suatu pandangan dari seorang cowok, yang jika memandang ke arahku berbeda. Ingatkah kalian tentang Arthur, yang beberapa waktu yang lalu meminjam catatanku? Ya itulah cowok yang jika memandang ke arahku rasanya berbeda tatapannya, mungkin itu tatapan suka. Dia juga udah mulai sering SMS aku, padahal dia nggak pernah minta nomer hapeku, dan sampai detik ini aku bingung siapa yang memberi dia nomer hapeku. Eiitts, but aku nggak mau GR dulu. Belum tentu dia suka sama aku, padahal kita kan juga belum kenal deket.  
Jadi dia itu sebenarnya merantau disini, dia dari kota besar. Kenapa coba dia milih kuliah jauh-jauh disini, kota yang lebih kecil dari kotanya? Padahal kalau aku jadi dia aku milihnya di kampus yang katanya juga perguruan tinggi ternama disana. But, life is choice. Dia disini tinggal sama saudaranya. Kita telah bercerita banyak. Alim juga orangnya terlihat dari penampilannya, sholatnya , dari kalangan keluarga yang baik-baik juga.
~~~~~~
Suatu hari disaat kuliah telah selesai, kebetulan pulang maghrib. Jam 6 lebih, bus otomatis udah nggak ada, dan akupun tidak ada yang menjeput. Dan saya pun bengong di depan tulisan Fakultas Sastra. Tiba-tiba ada seseorang medekatiku, kupikir Riani, Rita atau Liana tapi ternyata Arthur.
“Mayda manis…” Sapa dia dan kemudian duduk di sebelahku.
“Hei..” Jawabku kaget. “Kok belum pulang? Kuliah udah selesai kan?”
“Udah, nggak tau nih males pulang. Kamu udah solat maghrib belum? Kamu sendiri kenapa belum pulang? Nungguin aku ya? Hihihi”
“Wiiiih, surup-surup ngaco kamu ya? Udah dong, barusan. Aku nggak ada yang jemput”
“Apaan? Surup-surup?”
“Oh iya orang kota nggak tau bahasa daerah sini ya? Surup-surup itu artinya petang, ya waktu-waktu maghrib gini lah. Bareng kamu?”
“Oooh..” jawabnya manggut-manggut. “Iya bareng aku, kenapa? Kamu belum makan kan? Ntar kita cari makan dulu. Oke” sambungnya.
“Rejeki nih. Nggak boleh ditolak. Hahaha”
“Dasar gendut, giliran bahas makan aja matanya langsung ijo. Yaudah yuk”
Diperjalanan, entahlah aku ingin pegangan tapi aku malu, karena aku bukan pacarnya dia. Tapi perlahan tapi pasti, jebreeet! Dia menarik tanganku dan memengang tanganku, tangan kirinya memegang tangan kananku, tangan kanannya memegang setang, bisa dibayangkan kan posisinya? Ah sial, sepertinya dia mengetahui yang saya pikirkan.
“Santai saja…” bisik dia. Tapi aku hanya diam.
~~~~~~
Terlalu cepat mencintai. Itu yang aku fikirkan. Perlahan-lahan seiring berjalannya waktu, berjalannya hari, entahlah diriku ini yang tadinya hanya menganggap dia teman biasa, perlahan-lahan berubah. Aku sendiri juga bingung, antara suka atau yang lainnya? Ingin sekali mengungkapkan, tapi aku sadar aku cewek. Jika aku menunggu, ya kali kalo dia punya rasa itu juga. Tapi demi apapun, perilaku dia ke aku menunjukan seperti dia memiliki rasa untukku. Bukannya GR tapi beneran. Malam harinya, dia SMS aku..
“Malem Mayda”
“Iya Thur?”
“Udah maem? Udah Sholat?
“Alhamdulillah udah. Kamu sendiri?”
“Udah juga May.”
Dan kami membahas banyak hal, mulai dia menggombali aku sampai ke conversation yang serius.
“May, lagi jatuh cinta ya?”
“Siapa? Aku? Enggak kok”
“Kelihatan kalik, tadi wajahmu berseri-seri gitu. Jujur deh May”
“Kamu sendiri juga lho, iya kan?”
“Hmmm.. jujur ya May, aku ngerasa ada sesuatu yg lebih disini (hatiku) ke kamu. Aku nggak tau itu apa, yang jelas aku tiap deket sama kamu, aku deg-degan. Dan aku nggak tau apa kamu juga merasakan itu. Mungkin terlalu cepat, soalnya aku nggak pernah ngerasain ini sebelumnya.”
“You feel that, I know. I feel it too. Kelihatan kok, aku sebenarnya juga udah mulai merasakan sesuatu yang beda ke kamu. Maybe. But, I don’t know why?”
“Kamu bikin aku senyum-senyum sendiri sayang :* Tunggu sampai kita jadian ya, aku pasti bakal nembak kamu tapi nggak sekarang, percaya deh hati aku cuma buat kamu sayang”
Whaaaat? Sayang? Dia manggil aku sayang? Kita kan belum jadian. Dan kita pun melanjutkan SMSan hingga larut malam.
Seolah ada sesuatu yang baru dihidupku, aku juga merasakannya ini terlalu cepat. Aku bingung bagaimana menjelaskannya tapi yang jelas tiba-tiba rasa itu hadir. Tidak seperti hujan, yang datangnya pasti diawali mendung dahulu. Tapi ini tidak, rasa ini hadir, ketika dia mulai membuatku nyaman ketika berada di sampingnya.  Mulai perhatiannya, sikapnya kepadaku. Sebenarnya ini rawan, karena ini sangat instan. Seperti halnya makanan atau minuman yang instan, jika dikonsumsi terus-menerus pasti ada bahayanya. Aku harus menjalani ini semua, seperti yang dia bilang, kita bukan pacar tapi kita lebih dari sahabat.
Bukan masalah jadian atau enggak, aku takut jika seandainya dia hanya mempermainkan aku, maybe ini terlalu ekstrim sedangkan wajah dia terlalu alim buat melakukan itu.
~~~~~~
Keesokan harinya.
Dia membawakanku sebuah coklat sepulang kuliah. Aku nggak minta, dia sendiri yang memberinya. Kemudian aku bilang, aku pengen nonton film Insidious 2  tapi aku hanya bilang pengen bukan ngajakin nonton. Dia malah ngajakin nonton pas hari Minggunya. Aku jadi merasa nggak enak.
Aku berjalan ke depan fakultas, lalu dia menarik tanganku seraya berkata “pulang bareng yuk”. Deg-degan hatiku.  Dan aku pun meng’iya’kan.
~~~~~~
Hari minggu pun tiba. Pukul 12.30 dia menjemputku di rumah, dia mengajakku nonton di salah satu mall terbesar di kota ini. Seperti biasanya, di sepanjang perjalanan dia mengenggam tanganku. Sesampai disana sesudah kita parkir motor, kita jalan ke bioskop pun bergandengan tangan. Sembari menunggu film yang mulainya jam 14.00, kami membeli tiket terlebih dahulu dan kemudian duduk disana dan membeli segelas es lemon tea.
Film mulai, aku dan Arthur memasuki ruangan. Dan kami pun telah duduk di tempat duduk yang kami pilih, tengah. Maklum film horror, nggak berani kalau duduk di depan, hehe. Insidious 2, film horror terbaru sequelnya Insidious 1, film yang betah banget nongkrong di bioskop. Sebenarnya aku juga hanya coba-coba nonton, seumur-umur baru kali ini aku nonton film horror di bioskop. Sebelumnya sih paling nonton Perahu Kertas 1 dan 2, Despicable me 1 dan 2, itu bareng-bareng sama temen SMA dulu. Dan kalau pas nonton 5cm dan Breaking Dawn part 2 itu sama si ‘ehm’ alias mantan. Dulu sempet hampir nonton The Conjuring tapi yang ngajak malah nggak jadi.
Oke lanjut ke nonton Insidious 2 nya, harus punya jantung yang kuat kalo nonton ini. Selain kemunculan hantunya yang mengagetkan, musiknya pun mengagetkan. Di tengah-tengah nonton filmnya, dia mengenggam tanganku dan tiba-tiba ada sapuan hangat di pipiku. Aku menengoknya, dia tersenyum. Dan aku pun tersenyum, kemudian kembali menikmati film. Ya Tuhan itu tadi apa? Aku deg-degan lagi.
“May..” Bisik dia.
“Ya?” Jawabku tanpa menoleh. Dia hanya memandangiku sambil tersenyum. Menjawab dengan singkat, selain karena grogi tapi karena aku juga lagi menikmati film. Lalu, dia membawa kepalaku bersandar di bahunya. Dia merangkulku.
Aku semakin yakin, aku nggak ragu-ragu dengan perasaanku. Aku benar-benar mencintainya, aku mencintainya. Entahlah, Arthur bisa memberikanku rasa nyaman ketika aku berada di dekatnya. Cara dia memperlakukan aku dengan halus. Demi apapun aku telah jatuh hati pada Arthur. Sekarang aku kalau berangkat kuliah, dan kalau pulang sering bareng dia. Ya Tuhan, semoga ini semua akan terus berlanjut.
~~~~~~
Beberapa hari kemudian.
“Mayda…” Panggil Riani dari kejauhan.
Aku yang dari tadi berjalan menuju taman fakultas sastra, menengok ke belakang dan berhenti. “Heyy…”
“I want to ask you”
“About? Duduk dulu yuk disana” Aku menujuk barisan kursi di taman.
“Kamu jadian sama Arthur?” Tanya Riani sambil melotot.
“What? Not yet” jawabku santai.
“Not yet? Berarti ada tujuan untuk jadian?”
“Kelihatan lho May, dari sikap kalian berdua. Cara kalian bicara. Sepertinya ada sesuatu.” Sambung Liana yang tiba-tiba muncul bersama Rita. Pertanyaannya sudah seperti wartawan.
“Kalian itu apa-apaan sih? Aku nggak ada apa-apa sama dia. We just a friend”
“Friend? I’m not sure. Plis cerita dong ke kita May” Tanya Rita memohon.
“oke oke karena kalian bertiga maksa,  aku akan cerita. Please keep the secret.”
“siaaaaap” Jawab mereka bertiga kompak.
“Read it” aku menyodorkan handphone ku ke mereka bertiga. “Baca SMSnya Arthur”. Karena aku malas menceritakan yang panjang lebar, akupun menyuruh mereka menyimpulkan isi SMS Arthur.  Tak beberapa lama kemudian.
“OMG.. So Sweet” teriak Liana lebay.
“Ini seriusan?” Tanya mereka.
“Sebenarnya, aku juga udah merasa si Arthur ada sesuatu sama kamu. Semuanya itu kelihatan. Nyata. Real. Cara dia memperlakukan kamu, cara dia berbicara ke kamu, cara dia bersikap ke kamu. Selama ini, diam-diam kita bertiga memperhatikan kamu dan Arthur, May. You know?” Jelas Ita.
“Aku restuin deh” Jawab Rita.
“Kalian apa-apaan sih? Ada-ada aja” Jawabku ngawur. “Kantin yuk, laper”
“Ditraktir nih?” Tanya Rita.
“Maleeeees!” Aku berlari ke kantin dan ketiga sahabatku menyusul.
“Ciyeeeeeeeeeee mentang-mentang gebetan baru. Hihihihi” Teriak mereka bersautan.
Aku melewati gerombolan teman cowok dikelasku, ada Arthur disana. Aku berjalan di depan mereka sambil menyapa.
“Heii brooo” aku menyapa ke semua temanku.
“Heiii” jawab mereka bersautan.
“Ciyeee Arthur, itu lho ada Mayda.” Kata Andrian ke Arthur.
Aku lihat Arthur hanya senyam-senyum. Dan teman-teman yang lain men-ciye-ciye-kan, begitupun Riani, Rita, dan Liana. Aku pun terus berjalan.
~~~~~~
Waktu pun berjalan. Sudah lama sekali rasanya nggak ada kepastian. Tiap hari menunggu tapi entahlah kenapa tidak ada tanda-tanda dia ingin menyatakan cinta. Entahlah. Harus berapa lama lagi aku menunggunya. Inilah susahnya jadi cewek, nggak bisa ngomong duluan. Akhirnya aku memberanikan diri, bertanya kepadanya.
“Arthur..” aku menghampirinya saat dia duduk di taman.
“Oh hei…”
“I want to tell you something” jawab kita berdua secara bareng.
“Ladies first” Jawab dia.
“Aku sayang kamu” Aku merendahkan nadaku sambil tertunduk. Tapi dia tidak menjawab. Perasaanku sudah deg-degan, grogi, dan nggak enak. “Aku malu ngomong duluan, kemarin-kemarin kamu pernah bilang kalau kamu suka sama aku.. I mean, kamu bilang ada rasa yang lebih ke aku. Apa rasa itu masih?”
“Mungkin…” jawabnya pendek, dan kemudian di melihat ke atas. Dan menunduk lagi “Aku rasa, rasaku itu hanya sesaat. Itu hanya sebuah rasa kagum, kamu cantik, kamu pasti bisa dapat cowok yang lebih dari aku. Aku mau fokus kuliah dulu. Maaf”
Bayangin rasanya. Seketika aku nggak bisa ngomong apa-apa. Jadi selama ini, dia nggak serius sama aku. Aku nggak tau kenapa Arthur tega ngomong gitu, hanya rasa sesaat. Aku diam. Aku nggak tau harus ngomong apa. Tega. Apa arti kelembutannya selama ini? Dia nggak berharap lebih ke aku, sedangkan aku terlanjur mencintainya. Tuhan, aku ingin nangis.
“Aku cuma pengen ngungkapin perasaanku aja kok, Thur. Kamu tau sendiri kan kalau perasaan yang cuma dipendem sendiri, rasanya gak enak.” aku mencoba mengulas senyum, meskipun kecil.
Kebaikan aku jangan disalah artikan dong please... Aku cuma mau bersahabat sama siapa aja. Maaf ya kalo keputusanku menyakitimu...”
Kebaikan? Jadi kebaikannya selama ini hanya sebagai teman. Lalu apa artinya genggaman tangan itu, rangkulan itu, dan sapuan hangat di pipiku itu? Teman? Apakah dia juga melakukan itu ke teman ceweknya yang lain? Aku rasa tidak. Cobalah benar-benar berpikir pakai logika. Lagi dan lagi, aku menelan ludahku. Rasanya sakit di dada. Entah kenapa. Padahal aku gak mengidap penyakit dalam apapun. Kali ini sakitnya terasa berbeda.
“Maaf ya May kalau kata-kataku nyakitin kamu.” Sepertinya dia mengetahui kalau hati aku sedang menangis, sekuat tenaga aku menahan air mataku.
“Kamu gak salah kok, Thur. Udah lupain aja yang barusan. Anggep aja aku gak pernah ngomong kayak tadi.” lagi aku melukis senyum getir. Kali ini aku coba mengangkat kepalaku dan memandang Arthur. Karena daritadi kami berdua kami tak saling tatap muka. Kami hanya menunduk satu sama lain.
Sial, batinku.  Aku yang keGRan atau dia yang tega. Bayangin, cewek mana yang tidak suka dengan kelembutan? Cewek mana yang tidak suka dengan semuanya itu? Maksudku, cerita yang sebelumnya tadi. Sore yang kelam.
~~~~~~
“Maydaaaaa!!!!” Teriak Riani dari belakangku, saat aku duduk di taman sebelum jam kuliah dimulai.
Aku melepaskan headseat ku yang sedang menyanyikan lagunya Ungu, Cinta Dalam Hati. “Hmmm?” Jawabku lesu.
“Apa yang sedang kamu lakukan? Menggalau dan mendengarkan musik galau.” Goda Riani padaku.
Aku heran sama ini bocah, tau aja kalau aku lagi mendengarkan musik galau padahal aku pakai headseat lho. Udah kayak paranormal aja. “Ni, aku mau cerita” jawabku.
“ceritalah padaku, aku akan menjadi pendengar yang baik”
“jadi gini…….” Aku meneruskan kata-kataku, aku menceritakan apa yang terjadi kemarin sore secara benar dan tidak dibuat-buat.
“Apaaaaa? Jadi selama ini maksudnya dia deketin kamu itu apa? Mau nyakitin kamu gitu? Gila! Nggak terima aku, sahabat ku disakitin kayak gini. Kurang ajar si Arthur” Teriak Riani.
“Ssssstttt pelan-pelan aja ngomongnya Ni!”
“emosi aku”
Dan aku pun menceritakan hal yang sama ke Rita dan Liana, mereka juga emosi. Heran, Cuma benar-benar bingung apa salahku. Aku yang salah atau Arthur yang salah? Mengapa ia tega melakukan ini semua? Apa benar itu hanya keisengan? Atau keseriusan? Mungkin definisi kata sayang di kotanya dengan kotaku itu berbeda. Maybe, pergaulan anak muda disini dan disana jelas berbeda.
Aku sadar, aku tidaklah cantik, aku tidaklah langsing, dan aku tidaklah menarik. Itukah yang membuat ia mempermainkanku? Terlalu ekstrim rupanya, sedangkan wajahnya terlalu lembut untuk melakukan itu semua. Aku sadar, aku hanya gadis yang pendek gendut dan ya apa adanya, tidak seperti gadis-gadis di kota itu. Aku gadis biasa.
Sekarang aku tak tau harus berbuat apa. Setelah mengetahui semua itu? Hati kecilku bergejolak, hati kecilku menjerit. Aku ingin mengatakan, bahwa dia jahat, tapi aku tidak tega aku sadar aku bukan iblis, aku masih punya hati. Aku ingin melangkah mundur sambil memberikanmu tepuk tangan, kau hebat! Aku ingin menjauh darinya, tapi bagaimana bisa? Sedangkan kami, setiap hari pasti bertemu.
Yang aku tau, yang harus aku lakuin sekarang adalah bersabar. Menanti keajaiban datang. Menanti dia sadar, akan hadirnya aku karena tingkahnya. Menanti, semua itu datang. Menanti dan menanti. Sekarang aku dan dia sudah lost contact sejak saat itu. Apakah ia ingin menghindar dariku? Apakah dia jijik kepadaku?
~~~~~~
Aku titip hati aku, aku titip hati kecilku ini, aku titip hati yang rapuh ini kepadamu, semoga kelak kau akan menyadari siapa yang membuat hati ini rapuh. Hanya ini yang bisa aku berikan kepadamu. Sebuah hati yang kecil. Sebuah hati yang terisi namamu. Sebuah hati, yang mungkin hanya akan tertutup oleh siapapun, terkecuali dirimu. Aku hanya berharap, semoga nanti kamu akan membukanya lagi. Membukanya dengan tulus. Membukanya dengan hatimu yang jernih. Membukanya dengan keikhlasanmu untuk bersama denganku. Aku mencintaimu.

 ~~~~~
By: @dhuumdhumm

0 komentar:

Posting Komentar