KARENA CINTA TAK HARUS SELALU BERSAMA
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh…
Bismillahirrahmanirrahim…
“Dalam kehidupan rumah tangga,ekspresi cinta memang dapat tersalurkan
dengan baik lewat perjumpaan dan kebersamaan.Namun bukan berarti
ekspresi tersebut menjadi beku ketika harus berpisah atau menjadi layu
ketika tak dapat bersama.
Perpisahan memang sering menciptakan suasana mendung menggelayut di
relung-relung hati.Namun,seperti ungkapan sebuah bait…tak selamanya
mendung itu kelabu…
“Bagaikan sakit yang dapat mengingatkan seseorang tentang mahal dan
berharganya kesehatan,maka perpisahan pun dapat mengingatkan seseorang
betapa indahnya kebersamaan dan betapa berharganya perjumpaan.Karenanya,
dalam batas tertentu,perpisahan justru dibutuhkan untuk mengasah
ketajaman cinta,memperhalus rasa,dan latihan bagi jiwa.
Karena ketika itu, ekspresinya lebih mengandalkan ketulusan hati
ketimbang emosi,lebih membutuhkan kejernihan pikiran ketimbang selubung
perasaan…
“Ketika sebagian orang menjadikan perpisahan sebagai kesempatan
mencuri pandangan atau mengalihkan perhatian ,justru ketika itulah
sebenarnya saat yang paling tepat baginya untuk mengevaluasikan dan
meningkatkan kualitas cintanya kepada sang pilihan.
Sebab,kini dia dapat mengungkapkan perasaannya lebih dan lebih dalam
dan lebih berisi dari sebelumnya,bahkan bisa jadi lebih puitis dari sang
pujangga.Tidak hanya itu,dengan kebersihan hati,kerinduannya pada
doa-doa tulus di penghujung malam atau keheningan.
“Ekspresi cinta Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kepada istri
pertamanya ;Khadijah radhiallahu anha,justru baru dapat ditangkap
,berdasarkan berbagai riwayat yang ada,setelah sang istri tercinta telah
tiada dan tidak lagi bersamanya.Hal mana membuat Aisyah radhiallahu
anha merasa sangat cemburu dengan Khadijah walau dia tak pernah bersua.
Sehingga dia selalu menanyakan alasan dan latar belakang mengapa
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam begitu mencintainya.Sekali waktu
beliau menyebutkan latar belakang nya terkait dengan peran dan
sumbangsih Khadijah atau karena kemuliaan akhlaknya.Namun ketika
alasan-alasan tersebut serasa tak dapat mewakili ekspresi cinta beliau
yang sedemikian besar kepada sang istri,beliau hanya berucap;
”Sungguh aku telah diberi karunia berupa cinta kepadanya.”[Muttafaq alaih].
“Cinta model ini, mestinya telah melampaui batas-batas fisik,tempat
dan waktu.Cinta sejati yang sulit diuraikan dan dibahasakan,kecuali
bahwa dirinya telah memilikinya dan merasakanya.
“Pada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,kita tidak hanya dapat
belajar tentang ruku dan sujud panjang membelah malam,tapi juga tentang
bagaimana menyimpan cinta didasar hati yang paling dalam…
“Disana,seusai akad pernikahan ,seorang ustaz berdoa lirih diaminkan dengan khusyu kedua pengantin dan para hadirin….
”ALLAHUMMA ALLIF BAINAHUMA KAMA ALLAFTA BAINA RASULILLAH WA KHADIJAH KUBRA…..
[Ya Allah,satukanlah hati mereka berdua sebagaimana engkau menyatukan hati Rasullullah dengan Khadijah Kubra....].
Semoga bermamfaat..
copas dari http://blognyafitri.wordpress.com/2012/07/06/karena-cinta-tak-harus-selalu-bersama/#comment-652


0 komentar:
Posting Komentar